The latest arts and entertainment news from Pennsylvania
Provided by AGPMenjelang kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Tiongkok pada tanggal 19–20 Mei, CGTN menerbitkan artikel yang mengulas evolusi hubungan Tiongkok-Rusia pada momen bersejarah yang penting.
Artikel tersebut menyoroti bagaimana diplomasi yang berkelanjutan di tingkat kepala negara telah memperkuat rasa saling percaya di bidang politik serta bagaimana Tiongkok dan Rusia membangun model hubungan antarnegara besar yang ditandai oleh saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, dan kerja sama yang saling menguntungkan, sehingga menjadi contoh nyata stabilitas dan kesinambungan di tengah dunia yang penuh gejolak.
BEIJING, May 19, 2026 (GLOBE NEWSWIRE) -- Dalam rangka memenuhi undangan Presiden Tiongkok Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok pada 19–20 Mei. Kunjungan ini menjadi bukti terbaru dari eratnya pertukaran tingkat tinggi yang telah menjadi ciri khas hubungan Tiongkok-Rusia di era baru.
Kunjungan Putin berlangsung pada momen bersejarah yang penting. Tahun ini menandai peringatan 25 tahun penandatanganan Perjanjian Hubungan Tetangga yang Baik dan Kerja Sama Bersahabat Tiongkok-Rusia serta berdirinya Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), sekaligus peringatan 30 tahun pembentukan kemitraan strategis komprehensif yang berupa koordinasi antara Tiongkok dan Rusia.
Selama satu dekade terakhir, diplomasi di tingkat kepala negara telah berperan penting dalam mengarahkan hubungan bilateral di tengah lanskap global yang berubah dengan cepat. Sejak tahun 2013, Xi dan Putin terus melakukan interaksi secara rutin. Xi telah mengunjungi Rusia sebanyak 11 kali, sedangkan Putin telah berkunjung ke Tiongkok sebanyak 13 kali. Hal ini mencerminkan kokoh dan berkelanjutannya hubungan bilateral strategis antara kedua negara.
Diplomasi di tingkat kepala negara menyediakan panduan strategis
"Frekuensi dan kedalaman interaksi mereka jarang terlihat di belahan dunia mana pun," kata Zhao Long, peneliti rekanan di Pusat Studi Rusia dan Asia Tengah di Shanghai Institutes for International Studies.
Beliau menyebutkan bahwa kedua pemimpin telah bertemu lebih dari 40 kali dalam satu dekade terakhir. Menurutnya, diplomasi di tingkat kepala negara telah menjadi pilar kuat bagi tingginya level saling percaya serta kekuatan pendorong utama di balik kerja sama praktis di berbagai sektor.
Pada bulan Maret 2013, Rusia menjadi negara pertama yang dikunjungi Xi setelah menjabat sebagai Presiden Tiongkok. Pada tahun 2019, kedua negara tersebut meningkatkan hubungan bilateral menjadi kemitraan strategis komprehensif yang berupa koordinasi untuk era baru serta menandai level tertinggi dalam sejarah hubungan bilateral Tiongkok-Rusia.
Pada tahun 2025, Putin mengunjungi Tiongkok untuk menghadiri KTT SCO serta rangkaian acara peringatan 80 tahun kemenangan dalam Perang Perlawanan Rakyat Tiongkok melawan Agresi Jepang dan Perang Anti-Fasis Dunia. Pada tanggal 4 Februari tahun ini, Xi dan Putin mengadakan rapat melalui video untuk membahas perkembangan hubungan bilateral ke depannya serta koordinasi kedua negara di platform internasional.
Di bawah arahan kedua kepala negara, Tiongkok dan Rusia terus meningkatkan rasa saling percaya di bidang politik serta secara tegas mendukung satu sama lain dalam isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan utama kedua negara tersebut, termasuk kedaulatan, keamanan, dan pembangunan. Kedua negara juga memperkuat koordinasi di berbagai platform internasional utama, seperti PBB, SCO, BRICS, APEC, dan G20. Melalui kerja sama tersebut, keduanya bersama-sama menentang unilateralisme serta berkontribusi terhadap terbentuknya tatanan dunia multipolar.
Xi sebelumnya menyatakan bahwa Tiongkok dan Rusia telah mengeksplorasi jalan baru bagi negara-negara besar yang bertetangga dalam menjalin hubungan satu sama lain. Hubungan tersebut ditandai dengan prinsip non-aliansi, non-konfrontasi, dan tidak menargetkan pihak ketiga, sekaligus menjadi contoh jenis hubungan antarnegara besar yang baru.
Kerja sama praktis mencapai level baru
Didukung oleh semakin kuatnya rasa saling percaya di bidang politik, Tiongkok dan Rusia telah meraih hasil yang signifikan melalui kerja sama praktis yang luas di berbagai bidang, seperti perdagangan, energi, dan budaya.
Meski menghadapi tantangan global, kerja sama ekonomi dan perdagangan antara kedua negara terus berkembang. Kedua negara juga aktif mendorong penyelarasan antara Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (BRI) dengan Uni Ekonomi Eurasia. Lebih dari 70 persen kereta kargo Tiongkok-Eropa dalam kerangka BRI melintasi Rusia menuju Eropa, dengan jumlah perjalanan yang terus mencapai rekor baru.
Tiongkok tetap menjadi mitra dagang terbesar Rusia selama 16 tahun berturut-turut. Menurut data terbaru dari Kementerian Perdagangan Tiongkok, nilai perdagangan bilateral mencapai $227,9 miliar pada tahun 2025, yang menembus angka $200 miliar selama tiga tahun berturut-turut. Pada kuartal pertama tahun ini, nilai perdagangan bilateral mencapai $61,2 miliar, naik 14,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertukaran antarmasyarakat juga terus meningkat. Selama bertahun-tahun, kedua negara telah bersama-sama menggelar berbagai program pertukaran, termasuk tahun bahasa, tahun pariwisata, tahun pertukaran pemuda, dan tahun kebudayaan.
Selama Tahun Kebudayaan Tiongkok-Rusia 2024–2025, kedua negara tersebut menyelenggarakan serangkaian kegiatan pertukaran budaya. Drama tari orisinal asal Tiongkok, Wing Chun, dipentaskan di Teater Bolshoi di Moskow. Sementara itu, pertunjukan Orkestra Teater Mariinsky dan Balet Bolshoi Rusia di Tiongkok juga mendapat sambutan yang meriah. Pada tahun 2025, Tiongkok dan Rusia juga memberlakukan kebijakan bebas visa timbal balik, yang mendorong lonjakan kunjungan wisatawan antara kedua negara.
Mulai dari penguatan rasa saling percaya di bidang politik, perluasan kerja sama praktis, hingga peningkatan pertukaran antarmasyarakat, Tiongkok dan Rusia terus memperkuat persahabatan bilateral kedua negara.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, pertemuan mendatang antara kedua kepala negara diharapkan dapat semakin mendorong perkembangan hubungan bilateral, membawa manfaat yang lebih besar bagi rakyat kedua negara, serta menghadirkan stabilitas dan momentum positif yang lebih kuat bagi dunia yang terus berubah.

Kontak: CGTN Digital cgtn@cgtn.com
Legal Disclaimer:
EIN Presswire provides this news content "as is" without warranty of any kind. We do not accept any responsibility or liability for the accuracy, content, images, videos, licenses, completeness, legality, or reliability of the information contained in this article. If you have any complaints or copyright issues related to this article, kindly contact the author above.